All Marketers Are Liars: Harga Sebuah Cerita

online marketing story teller
Konsumen terbiasa menipu diri sendiri, begitu kata seth godin dalam buku marketing: All Marketers Are Liars. Namun semua tergantung bagaimana sajian cerita terjalin plus juga termakan oleh kita. Benar atau salahnya kita kembalikan ke perspective diri kita masing masing, namun dalam dua hari kebelakang saya semakin percaya hal itu.

Dua cerita dalam dua hari namun dengan esensi nilai yang sama: Behind the Story dan Pride (Perhatian dan Bias).

Behind the Story

Hal yang sering disajikan sebelum harga adalah cerita didalamnya. Sabtu kemarin, rumah saya di kawasan tanggerang ‘terbobol’. Layaknya rumah yang baru saja dikunjungi intruder, lokasi TKP sangat kacau berbagai perabot dan lemari beserta isinya berserakan kemana mana. Sayangnya sang penyamun yang juga telah merusak daun pintu rumah saya itu, gagal mendapat barang berharga, bukan karena tertangkap tapi memang sudah tidak ada yang cukup berharga(buat mereka tentunya) disana.

Barang yang diambil memang hanya sebuah jam lawas, namun cerita personal dibelakangnya membuat harga barang tersebut menjadi lebih bernilai dari iPod, bahkan MAcBook sekalipun, meskipun belum tentu sependapat dengan orang lain.

Pride

Ia seorang professional Photographer sekaligus owner dari SexSeven. Namanya Yudi, di hari yang sama, untuk kepentingan kerja, sepupu saya ini, baru saja membeli MacBook costume yang kebetulan tergolong limited edition di Indonesia. Bukan karena Macbook lebih baik dibanding Toshiba, Acer atau brand lainnya tapi perhatian untuk memilih macbook muncul dari cara pandang konsumen terhadap suatu hal dan kebutuhan.

Pada akhirnya, Bias dari setiap oarang menyimpan harapan dan juga kadang dendam. Bagi Macbooker’s non pro biasanya akan lebih memanfaatakan keluaran apple sebagai peningkat prestidge diwaktu waktu ngeceng.

-

>> Kalau kamu, kenapa pilih MacBook? lalu, siapa yang ditipu, siapa yang menipu?

Related Posts

No related posts.

19 Responses to “All Marketers Are Liars: Harga Sebuah Cerita”

  1. ini seperti yang terjadi dengan standarisasi keyboard QWERTY dan juga Operating System. Walaupun orang menggunakan sebagai standar dunia, tapi dibalik itu semua itu hanya brand belaka :)

  2. sayang banget kalo beli macbook cuma buat ngeceng ya :D tapi kalo buat professional photographer, macbook memang jauh lebih baik daripada pc biasa..
    btw mas, sori waktu itu saya gak balas, saya kontak mas via ym.. kita chat aja yuk!

    • Yup memang saat ini trend macbookk di anak muda lebih ke arah lifestyle yang murni ‘ngeceng’ dibanding fungsinya … atau memang kultur kita yang lebih memprioritaskan prestige :-D

  3. Hmmm..
    Klo utk notebook, saya ga perlu beli canggih-canggih demi gengsi or utk ngeceng doang hehee… Sekarang saya belinya sesuai kebutuhan saja. BUkan karena ga punya duit untuk beli(eh emg iya sih ga punya duit juga hahaha) tapi karena semua itu kan yg penting adalah otak kita. Punya canggih2 tp ga tahu memaksimalkan ya buat apa toh :D

  4. hmmmm mungkin seperti itu juga alasan saya setengah mati cinta product Mac

  5. Biaya prestise, promosi, branding, merek, historis, atau apalah namanya…kadang jauh lebih mahal dibanding harga nyatanya. Ngga bisa dibilang ‘liar’ juga. Karena nominal harga itu toh terjual juga. Coba barang-barang itu dijual via tender. Ada kalangan yang mau merogoh koceknya lebih dalam.

    Tinggal pilih rasional atau irasional sesuai kondisi dan kemampuan. :)

  6. maaf mas, tulisan ini intinya apa yah? dilihat dr judul dan konten, sy msh blm nangkep arahnya kemana.

    • Intinya, ketika kita menjadi konsumen faktor pembelian barang terjadi karena mindset dan pengaruh nilai sebauhh cerita terhadap barang yang diolah marketer.. baik dari prestige atau sejenisnya….

      lengkapnya bisa membaca “All marketer are Liar” karya seth godin

  7. pemasar adalah pembohong karena memang dalam banyak kasus banyak konsumen suka dibohongi sih ya hehehe…
    mungkin karena saya juga background marketing, jadi kalau beli barang gak mau terpengaruh sama marketer (yang sebenernya sih gak bohong, tapi suka gak paham sama produk yang dijualnya sendiri) :p

  8. Mohon maaf kalau pertanyaan saya rada gak ‘nyambung’:

    Apa alasan Seth Godin mengatakan “Konsumen terbiasa menipu diri sendiri”?

  9. Segala tindakan manusia pada tataran bawah sadarnya lebih didasarkan pada pertimbangan emosional daripada rasional.
    Mungkin itu sebabnya disebut ‘konsumen suka menipu diri sendiri’, karena sudah tahu yang ‘benar’ kok masih pilih yang ’salah’.
    Semua marketer memanfaatkan celah psikologis ini. Hanya tingkatan manipulatifnya yang mungkin membedakan antara etis dan tidak (penipu/pembohong – tanpa tanda kutip).

    • [Hanya tingkatan manipulatifnya] jadi berpikir lagi… kita termasuk yang menipu atau yang etis yah … hhmmm

      • Mestinya ngga menipu kalau yang diterima konsumen sama atau lebih baik daripada yang ditawarkan (over delivery rather than over promise).
        Kadang disini masalahnya, karena komunikasi yang terjalin kurang baik & tepat, akhirnya miskom & meningkatnya request for refund + reputasi yang rusak.

  10. sepertinya “pride” dalam hal ini adalah yang bertanggung jawab atas lakunya barang-barang hi-tech di indonesia