
Sibuknya berbagai startegy iklan kampanye politik dimulai dari media iklan cetak / media iklan conventional sampai social media jelas dilakoni, khususnya kubu mega-prabowo tampaknya budaya politik melalui social media lebih klop dibanding tetap bertahan di media TV. Baru baru ini perkembangan politik, ramai dengan penipuan lembaga survey demi bandwagon effect untuk menggiring opini publik untuk personal branding yang positif dan pro-rakyat.
Lalu kenapa tampak lebih ‘ber-jodoh ‘ dengan komunikasi politik melalui media komunikasi horizontal Social Media ?
Empat dari 7 seri iklan politik di televisi pasangan mega-prabowo ditolak sejumlah stasiun televisi untuk menayangkannya.Empat seri iklan sosial politik tersebut bertitel "Bangkrut ", "Mencintai ", "Harga ", dan "Pekerjaan ". Berdasarkan tim kampanye politik megapro " alasan yang diajukan adalah iklan tersebut dinilai berisi kritikan sosial politik"
Isi dari iklan politik itu sendiri berupa kritikan yang mungkin saja dianggap terlalu tajam dan vulgar bagi pihak pemerintah. Untuk itu dengan alasan yang katanya " rakyat tidak senang "
Berdasarkan hasil telusur diungkapkan, ada kejanggalan atas penolakan tersebut. Setelah dilakukan pembicaraan, ada pula pengakuan bahwa stasiun televisi tersebut menerima telepon yang meminta agar menolak iklan Mega-Prabowo.
Menurut informasi yang saya peroleh, iklan pemilu Bangkrut hanya diterima Indosiar, sementara stasiun lain menolak iklan politik. Iklan Mencintai ditolak antara lain oleh RCTI, Global, Trans, dan Trans7. Iklan Harga dan Pekerjaan ditolak antara lain oleh SCTV, Trans dan Trans7.
Sebagai partai yang tidak incumbent serta sistem politik di negri ini, maka mungkin saja intervensi politik itu benar adanya, Dengan adanya penolakan itu sendiri kubu mega dan prabowo mengambil langkah social media politik, ini diwujudkan dengan beredarnya iklan layanan masyarakat "harga " , tersebut di Youtube.
How’s the Social media effectfor politic
Sebuah pertanyaan mengapa sembilan stasiun televisi begitu kompak tidak bersedia menayangkan iklan pemilu MEGA-PRO ?
Selain dari misteri besar, kenapa dan siapa dalang penolakan iklan politik tersebut. Tentu juga akan menimbulkan effect dengan menarik simpati publik untuk MEGA-PRO. Yang kedua tentunya dengan penggunaan social media yang sudah tersebar saat ini maka, sekalipun MEGA Prabowo gagal bertahta, maka besar kemungkinan media luar akan mengetahui begitu hancurnya sistem per-politikan Indonesia, terutama masalah kesejahterahan Masyarakat.
Bagaimana menurut kisanak ?


Pingback: Perkembangan politik Indonesia 2009 menjelang pemilu pilpres | online business marketing, Online Marketing strategy