
Tepat tanggal 9 desember 2010, sebuah undangan conference yang dihadiri sekurangnya 4000 marketer, memenuhi lantai 4 Ritz Carlton Pacific place, Jakarta. Ya, acara itu ber-title MarkplusConference 2010 dengan credo new momentum, new strategy . Tema yang diusung merupakan sequel dari new wave marketing MPC 2009. Berbeda dengan yang sebelumnya MPC kali ini berhasil menampilkan insightful nya. Beberapa sajian memang terkesan basi, namun hal itu hanya terasa bagi para penggiat internet marketing yang memang terbiasa dengan wave ituh.
Disana saya seakan kembali diingatkan, terutama pada konsep Many-to-Many Marketing . Pergeseran startegy pemasaran diakibatkan semakin melemahnya pengaruh iklan di radio, televisi, bahkan influence banner ads pun ikut menurun. Ini berbanding terbalik dengan kekuatan relationship alias pendekatan personal atau person-to-person yang dibangun antar netizen, sehingga hasilnya conversation adalah menu wajib bagi para marketer ataupun korporat yang mau bertahan, bahkan hasil yang lebih profitable dan sangat humanity.
Cases Box: How To Sell un-Curiousity Title
King Frog, Pernah dengar? Saya yakin teman-teman ngak tahu, soalnya ‘King frog’ hanya judul buku imaginer yang juga untuk buku yang imaginer pula. Nah kawan, seandainya anda menemukan buku dengan judul tersebut dan bersanding dengan "Bagaimana meraup dollar engan 3 langkah mudah" , mana yang anda pilih?
Tentu yang kedua kan!?. Ya, mau bagaimana lagi, judul memang critical point yang amat menentukan pilihan pembaca. Judul yang memiliki gravity akan patut dibicarakan sebaliknya, sering kali buku yang mempunyai konten konten fundamental justru dipastikan merugi karena judul yang tak patut dibicarakan banyak orang.
Sebagai Marketer / marketing agency anda diminta untuk membuat buku itu bisa terjual, maklum sang penulis juga penerbit sudah kadung menelantarkan ratusan eksemplar. Nah bagaimana solusinya?
Social media promotion: Many-To-Many Marketing
Dulu, anda bisa saja berpikir untuk membuat promosi lewat acara bedah buku lengkap dengan mengundang beberapa influencer . Namun, lihat berapa cost yang anda harus keluarkan? anda wajib membayar ongkos para pembicara ataupun influencer juga ngak ketinggalan menyajikan ‘sajen’ buat mereka. Sangat besar bukan. Selain costly anda masih ditambah dengan tingkat curiousty yang juga lemah.
Cara diatas, biasa disebut One-To-Many Marketing . dengan memanfaatkan influencer diharapkan konsumen akan terpengaruhi. Sekarang pergeseran menjadi sangat sangat social, keputusan tuk membeli barang tidak lagi dipengaruhi satu orang, namun justru disebabkan banyak orang. Yang tak jarang justru saudara, teman, bahkan sahabat blogger yang anda kenal.
Many-To-Many marketing yang disuarakan kemarin dalam tajuk promotion Vs Conversation adalah membuat fake story . Dimulai dengan menyiapkan beberapa orang ( misal : 20 orang ) kemudian ditempatkan pada tempat yang ramai misalnya pada sebuah kereta, namun jangan bayangkan dengan kereta yang semerawut seperti di Indonesia. Disana, kedua puluh orang ituh, mempengaruhi orang disekitarnya dengan menciptakan fake story lewat menampilkan cover buku yang sama, membaca buku yang sama, mem-’promosi’-kan buku yang sama "King Frog".
Hasilnya, penumpang akan mendapatkan curious ketika menyadari ke-20 orang ituh, menikmati sajian yang sama, membaca buku yang sama. Alhasil dengan curiousity itu penumpang yang menyaksikan kejadian itu akan ber-gerumun membeli "King Frog", dan kemudian fake "best seller" story itu menjadi nyata. Ya, begitulah efek Many-To-many Marketing strategy . Buku itu menjadi laris, buku itu sukses bukan saja sukses menipu tapi sukses menjadi real best seller.
Pertanyaannya, Bagaimana penerapan Many-To-Many marketing dalam jagat raya online?




Pingback: Brand Harus Waspadai Social Media | Internet Marketing as Blogpreneur