“I think Twitter can’t be stopped.” Setuju ?

Saat ini membangun komunitas dan membangun branding serta promotion lewat social media marketing sudah wajar bahkan kekuatan new wave twitter marketing yang biasa disebut twitter effect itupun melanda Indonesia . Bagusnya para Indonesian yang sangat community banget, justru berhasil membangun nasionalisme 2.0 . Siapa yang ngak tau hashtag "mbah Surip" atau bahkan "#IndonesiaUnite " sukses mendongkrak popularitas Indonesia dan tentunya albumnya Pandji.
Bagi penikmat Film, tentu sudah mendengar bagaimana movie "Inglourious Basterds " sukses mengalahkan Distric 9 , begitu yang diberitakan theHotz.com. Iklim dan demand on news secara real time rupanya mendukung model bisnis social media . Penyajian informasi secara singkat lewat strategy Twitter ( social media ) marketing mampu bekerja efektif dan signifikan.
Clearly their proactive Twitter-specific engagement efforts
Sekarang, pembuat film, corporate sampai rumah sakit harus mempunyai online PR ( Public Relation 2.0 ) dan setidaknya internet marketing , kenapa ? bayangkan, ketika film selesai diputar tak jarang kesan buruk dan kritik frontal tersebar bebas. Akibatnya branding dan story marketing yang dibangun hancur seketika. Yeah.."people will be twittering during the opening credits – and leaving when they don’t like them ".
Pada saat itulah studio marketing dibutuhkan menggiring dan manipulasi lewat Twitter Effect . Memanfaatkan Twittering celebrities, penyajian singkat 140 karakter dan Hashtag yang mudah diingat mampu kembali menguatkan brand building sekaligus menghasilkan promosi, customer engagement sampai speed of feedback/result yang efektif. Kemudian ketika peningkatan posisi pada twitter trend topic terjadi, kalau sudah begini buzz marketing via twitter otomatis meningkatkan penjualan ticket yang ujungnya … penghasilan meningkat. Hmm siapa yang nolak …..
Bagaimana menurut anda, bisa kah twitter effect diterapkan di pasar social media yang majemuk seperti Indonesia ?



