Industri musik di era social media, mungkinkah?
Music, sebagai industri yang kabarnya mampu meroketkan popularitas seseorang -termasuk finansialnya- mendapat guncangan kuat, khususnya dulu saat kemunculan napster. Sebuah layanan music sharing peer to peer yang ‘memaksa’ bagi pekerja seni audio untuk lebih kreatif menjual layanannya.
Seiring perjalanannya, gebrakan napster sebagai music sharing semakin mendomino. Musik semakin murah, musik semakin bisa didengar di kalangan termasuk di golongan yang memiliki purchasing power terbatas. Efek kejutnya? kalangan label, produser juga musisi kelabakan. Bingung harus bagaimana agar bisa tetap menjual musik mereka alhasil napster dan piracy coba diberantas. Kalian sudah tau sendiri hasilnya, Musisi diharuskan menempuh cara baru menjual diri.
Sekitar 2 minggu lalu, saya berkesempatan diundang ke acara #SeminarMusik 2.0 telkomsel. Sepulang acara semakin penasaran saya dengan industri musik lokal. Khususnya yang mendasarkan pada media social. Saya coba mencari kedalaman industri web music dan, tentu bukan dari sisi musisinya atau bagaimana gaya mereka mengemas dan menjual musik melainkan diantaranya.
Music Style and Everythig in between.
Setelah melakukan penjelajahan di social media, saya bertemu dengan Kautsar, beliau adalah founder dari GeeksBible.com dan seperti ini perbincangan diantara kami. enjoy…
Sekarang ini GeeksBible, bermarkas dimana?
Sekarang ini Markas Geeks Bible ada di Kemang. Kantor kami, meeting spot favorite kami, bahkan hingga menghabiskan malam minggu, biasa kami lakukan di Kemang. It’s where all the music and fashion meet!
Bagaimana sejarah awal terbentuknya GeeksBible.com? kalau terinspirasi darimana.
Inspirasinya sederhana. Kami suka musik yang sama, hobi menonton gig di Kampus atau Kemang, suka menulis, suka fotografi, dan punya keinginan yang sama: Berbagi pengalaman dengan orang lain. Akhirnya dari sebuah kamar kos-kosan, terciptalah GeeksBible.com, yang mulanya hanyalah sebuah tumblr-blog biasa, namun hitsnya mencapai rata-rata 600 unique visitors per-harinya.
Kenapa dulu milih GeeksBible? bukannya secara branding ngak ada kaitan dengan musik
Nama Geeks Bible bisa kita breakdown sebagai berikut: GEEKS memiliki homophone dengan GIGS. GEEKS = Terminologi slang untuk orang-orang yang expert dan antusias terhadap beberapa hal tertentu. GIGS = Terminologi slang untuk sebuah acara konser musik kecil di café/bar. BIBLE = Kitab. Kesimpulannya, ini adalah sebuah kitab bagi orang-orang yang antusias terhadap konser-konser musik.
Kenapa awalnya memilih niche:Music. bukannya di digital lokal cukup sulit dimonetasi? meskipun memang music termasuk yang sering jadi bahan pembicaraan
Kenapa niche music? Karena ini adalah idealisme awal kami. Mencari sebuah penghasilan, terlebih monetasi pada website ini, adalah sebuah hal yang tidak pernah terpikirkan. Jika ternyata sekarang bisa sejauh ini, jelas ini merupakan bonus tidak terduga.
Seperti apa misi GeeksBible.com? khususnya buat singer atau music creator
Kita hanya ingin satu hal: Terus mensupport musik lokal berkualitas (indie dan cutting edge), dan memperdengarkannya kepada dunia. Banyak band-band tanah air yang berkualitas, bahkan TIMES Magazine juga mengatakan demikian, namun media enggan mengabarkan, karena kurang sesuai dengan misi industri yang mereka kejar.
[Bicara Business model] Bicara web dan music, Apa yang bisa dijual dari music di media sosial? dan bagaimana cara monetasi Geeksbible saat ini?
Yang bisa dijual? Banyak! Musik sudah jadi sebuah gaya hidup bagi sebagian besar warga ini. Kami hidup di generasi MTV dan iPod. Yang perlu dilakukan, adalah membuat bagaimana kami bisa menyajikan informasi musik yang paling cepat dan paling diperbincangkan. Sehingga, feedback dan apresiasi advertiserpun kepada kami jadi semakin besar.
Apa differensiasi GeeksBibles dari web musik yang juga ‘menjual’ konten?
Kami hadir dengan pendekatan yang berbeda: Mendangkalkan yang Dalam. Kami menyajikan topik yang niche, namun dengan bahasa yang pop dan ringan. Tujuannya hanya satu, agar kami dibaca lebih banyak orang, dan dipahami dengan mudah.
Sebagai media web yang baru lahir 21-Feb, bagaimana bisa mendapat banyak advertiser dan media partner? bisa kasih tips
Untuk permulaan, kami yang ‘jemput bola’ dengan membuat paket-paket ‘jualan’ bagi mereka. Tiada henti-hentinya kita menyebarkan media profile kami kepada semua pihak. Butuh energi ekstra untuk menciptakan eksistensi, ditengah persaingan web-web serupa yang sudah terlebih dahulu menjadi pedoman banyak anak muda Jakarta.
Untuk insight pembaca, jenis konten musik yang bagaimana yg paling dicari?
Flyers. Pembaca kami sangat ingin tahu konser-konser dan gig apa yang akan hadir di Jakarta.
Kalau dilihat dari preference konten dan visitornya, GeeksBible termasuk yang memenuhi penikmat musik jenis apa?
Kami tidak dapat menentukan psikografis pembaca kami, karena kami tidak pernah melakukan riset secara profesional dan/atau melalui perusahaan riset. Pada kenyataannya, kami tidak memenuhi keinginan mereka, tapi kami yang mengarahkan apa yang harusnya jadi keinginan mereka. We don’t follow the trend, we set the trend!
See, music is about idealism.
Setelah perbincangan dengan startup di industri music ini (GeeksBible.com) saya percaya, meskipun industri adalah bagaimana produsen memenuhi harapan pembelinya tapi musik adalah pengecualian.
ps: untuk musik indie dan cutting edge boleh lho meminta advise dari Geeksbible.com








