Online strategy : segmentasi pemasaran

Arham Haryadi July 9, 2009 4

Salah satu proses lahirnya marketing strategy bersumber pada fakta jenis keinginan dan kebutuhan yang berbeda dari setiap consumer. Perbedaan tuntutan keinginan dan kebutuhan dari setiap behavior pelanggan kemudian membentuk segmentasi. Marketing strategy kemudian berkembang dengan menelaah marketing analysis untuk memahami segment customers , melakukan segment positioning serta bagaimana marketing communication dilakukan dengan social media marketing sebagai bentuk perubahan trend marketing strategy .

online marketing segmentation

Saya teringat, seorang teman berkeluh kesah karena kesulitan membidik pangsa pasar (segment markets ) dan bagaimana melakukan niche marketing tersebut. Dia berkerja di salah satu lembaga pendidikan bahasa yang bekerja pada di divisi CLT atau Corporate Language Training . Tugasnya sendiri adalah mencari sebanyak mungkin ‘student’ yang kemudian memenuhi kebutuhan peningkatan kemampuan berbahasa inggris karyawan dari korporat tersebut. Uniknya ada suatu kendala besar

menurut dia,  " Dari sisi iklim pendidikan bisa dikatakan di daerah tempat bekerja itu mempunyai respon yang positif dalam hal pendidikan baik itu bergelar atau non gelar "

Mendengar kesulitan menemukan segment customers tersebut, tampaknya ada kurang tepatnya memanfaatkan marketing media placement dan marketing communication dalam segmentasi pemasaran!!

Menentukan bentuk segment strategy sebenarnya cukup disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan corporate, atau jika mampu, maka bangunlah sebuah cerita marketing promotions yang membangun keinginan mereka untuk peningkatan kemampuan.

How to find a community ?

Bagian tersulit sebenarnya ada pada "bagaimana menemukan segment tersebut ! " yang padahal dari sisi iklim pendidikan cukup positive.

Cara pertama adalah ber-koalisi dengan media media yang sering bersentuhan dengan calon student dan corporate. Pelaksanaannya bisa dilakukan lewat online strategy dalam bentuk pemanfaatan social media dan network marketing bersama agent study overseas juga lembaga pendidikan non-formal.

Online strategy kedua gunakan Blog yang tersegment pada pendidikan dan HRD. Untuk memenuhi network marketing dan marketing promotions , setidaknya ada 2 fakta dan alasan kenapa blog dan web HRD  ;

1) kenapa Blog ?, Blog mempunyai reader yang loyal / kedekatan dengan pembaca , dan pembaca mendengarkan saran subjektif dari penulis. Saran yang subjektif mempunyai kekuatan orisinalitas tanpa ada intervensi. Maka kedekatan dan penyampaian pesan akan tercapai lebih baik dibanding via portal atau web komunitas.

2) HRD , dah psti tau dong, divisi ter-dekat dengan posisi employee ini akan memudahkan untuk networking dan menemukan company mana yang berminat, belum berminat atau bahkan sama sekali tidak tertarik. Disni bukan hanya join dengan pihak korporat tapi kedekatan pun bisa diraih lewat social network atau bisa juga Blog sebagai media pencitraan .

Bagaimana dengan pengalaman anda ? ada yang mau menambahkan

  • http://hitmansystem.com/blog Lex dePraxis

    Tulisan bermutu. I’ll be back for more. :)

    Salam kenal.

  • http://www.oakwoodstudios.com/ Leaflet Distribution

    I had to laugh, Corporate Language Training ! is that thinking up long phrases that in reality have very simple meanings, that to be honest are a total waste of time !
    So much time is wasted in big business on pointless exercises, get back to basics, work hard.

  • http://poside.blogspot.com BudiTyas

    Sejujurnya, dari sisi realitas, jika secara praktis sulit, artinya memang sulit. Seperti memasarkan prospek bayangan yang tidak bersandar data realitas kebutuhan pasar. Its hard by nature, meski dikerjakan oleh pemasar tangguh sekalipun.

    Dua post yang cukup mewakili mungkin :
    Bisnis Baru : Fokus ke Selling, Bukan Marketing
    dan
    Data Statistik : Teman Baik Ahli Marketing

    • http://www.road-entrepreneur.com Arham Blogpreneur

      saya rasa, kebutuhan pasar bisa diciptakan lewat cerita yang kemudian menghasilkan keinginan. Dan sejujurnya keinginan pun memang lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan. Pada akhirnya hanya audience tertentu saja yang mampu berpikir “My Needed is first and rest for what I want ” … after all, terima kasih masukannya :)