Seiring perkembangan social media, khususnya pertumbuhan kekuatan ‘rainmaker ‘ personal ternyata menimbulkan beragam efek social media strategy, misalnya penggunaan Blog yang awalnya sebatas personal menjadi corporate, lalu penggunaan situs-situs jejaring sosial dalam bisnis seperti media twitter dan facebook . Kelanjutan dan dampak berbagai perusahaan yang menerapkan social media identity via twitter marketing maupun facebook marketing rupanya menimbulkan masalah-masalah baru.

Pernahkah Anda membayangkan, bahwa baju apa yang Anda kenakan untuk avatar di Twitter atau facebook dan plurk, akan diatur oleh perusahaan tempat Anda bekerja?
Lembaga spesialis teknologi informasi Gartner, Inggris memprediksi sampai akhir 2013 nanti, 70% pelaku bisnis akan memiliki panduan "How To" mengenai kode-kode etika berperilaku ketika karyawan bertindak sebagai representasi dari perusahaan, apakah itu di lingkungan nyata maupun virtual. Selain hal itu masih ada panduan ber-busana "avatar dress code "untuk semua karyawan yang menggunakan social media (facebook, plurk, twitter , bahkan forum) sebagai bagian dari pekerjaan mereka.
Social Media Impact for Company Brand Identity
Rasanya memang tak salah, lihat aja perkembangan pemasaran dan public relations yang mau tak mau harus memakai media online kalau masih mau berkutik. Terlebih lagi penggunaan lingkungan-lingkungan virtual bagi keperluan-keperluan bisnis terus meningkat, maka tak aneh bisnis perlu memahami penggunaan avatar dalam kaitannya dengan pengaruh company brand identity terhadap bisnis atau reputasi perusahaan ." Mau bagaimana lagi, media Online dan dunia nyata sudah semakin tak berjarak…
Corporate Branding Made by Employee Attitude
Kalangan pengamat online marketing , cyber branding dan analis teknologi informasi mengingatkan bahwa perilaku dan penampakan avatar merupakan refleksi dari individu dan perusahaan tempat para aktivis social media bekerja. Oleh karena itu karyawan perlu diberi pelatihan mengenai manajemen reputasi, dan perusahaan bisa saja mulai meminta karyawan agar memisahkan antara avatar personal dan profesional.
lalu pertanyaanya..
Apakah dikantor Anda memiliki divisi social media? atau anda diminta mewakili perusahaan anda
Bersediakah anda diatur untuk penggunaan avatar?




