
Jika kamu mencari berbagai literatur atau bahan kuliah menyoal ilmu komunikasi di dunia Internet terkini atau new wave marketing alias social media marketing . Niscaya kamu akan menemukan beberapa studi kasus keberhasilan brand mengadopsi social media dan kasus yang berseberangan bertebaran di mana-mana. Umumnya bagaimana Dell dan My Starbucks Idea menjadi inspirasi bagi banyak brand lokal malahan menjadi tolak ukur kesuksesan banyak brand.
Sayangnya faktor dasar ilmu komunikasi marketing dan cyber PR via microblog seperti facebook , twitter , dan plurk , ternyata tidak ter-cover dengan baik. Karena dari itu tak sedikit brand yang justru berdukaria akibat tiba-tiba ingin masuk ke social media dan berharap sukses. Karena itu diperlukan study praktik pemasaran brand di microblogging seperti pemahaman kondisi yang tercipta di ranah maya akibat Twitter, bagaimana berkomunikasi dengan consumer, membangun personal branding bagi karyawan korporate, bagaimana menciptakan lasting relationship dengan berbagai prosumer.
Pembahasan seperti itulah yang akan dibahas "Twitter | Plurk" kreasi Pitra Satvika . Dengan hadirnya Twitter | Plurk niscaya tidak ada lagi permasalahan brand di social media, akibat banyaknya brand di Indonesia yang tidak biasa atau bahkan tidak pernah bercakap-cakap dengan konsumennya.
Nah, apa pendapatmu tentang aktivitas brand di social media?
Ps:
Menurut sumbernya dan penelusuran pribadi, buku seharga Rp. 36.000,00 ini sudah mulai beredar sejak minggu kemarin.







kayaknya sekarang hampir semua brand-brand besar mulai melirik social media. Apalagi melihat perkembangan sosial media dan jaringan internet yang semakin menggila. Tapi semua itu perlu strategi pendekatan yang berbeda karena dunia online tidak sama dengan dunia offline.
Social Media memang menjadi media alternatif yang lebih manusiawi. Sampe sekarang pun aku masih terkagum-kagum betapa kita jadi sangat dimudahkan untuk bahkan berkomunikasi dengan wapres dan menkominfo sekalipun.
Peluang terbaik untuk branding saat ini ya social media ini…
@DV
Untuk komunikasi dengan mereka seperti wapres dan menkominfo masih kutrang ‘afdol’ sekalipun social media setidaknya memudahkan kita mem-buzzing opinion ke mereka.
kenapa kurang afdol. Liat aja, gmn statuus following Pak tifatul sembiring tidak sama dengan followernya. Means masih belum sepenuhnya person to person
aktivitas brand di social media sebuah aktivitas yang tidak bisa terelakkan….medan laga bisnis memang mengalami pergeseran…..mau tidak mau…..sebuah keharusan baru…..