Why Social Media Is Not Suitable (Working) For You

Arham Haryadi February 4, 2010 16

social media fail

Social Media Is Not Working!. Apa Anda termasuk yang meragukan Social Media? Ya, saya tidak yakin karena tidak belum merasakan hasil beraktivitas di social media.

Lalu, anda semakin frustasi ketika orang disekitar mulai membicarakan prospek, monetizing, kasus kasus di social media hingga success stories. Mulailah introspeksi dari social media strategy, bagaimana anda membangun karakter? bagaimana anda ‘menikmati’ social media marketing berjalan?.

Berikut, adalah point point yang mungkin memberi kerugian personal brand atau bahkan menghambat pencapaian goals yang sudah ditetapkan.

1. Self Centered

Tidak ada yang peduli dengan anda bahkan juga produk anda. Mereka hanya peduli bagaimana suatu brand atau produk dapat menguntungkan dan meng-cover apa yang mereka butuhkan. Indikatornya adalah bagaimana anda atau brand bisa semakin menguatkan social communities atau individu. C’mon Start to think about others.

2. Don’t Come Out To Play

Berangkat dari kata social yang berarti play with others. Terlalu fokus pada optimasi konten dan membuat media anda semakin menarik memang perlu, namun justru melupakan interaksi dengan yang lain, bukan pilihan yang tepat meskipun itu blog anda memiliki traffic yang tinggi. Ber-aksi di social media berarti mengunjungi blog lain aktif di media social network dan meninggalkan jejak yang berkualitas, yang ini sudah pasti bukan “Nice Post” atau “Pertamax”. Sukses di social media juga berarti anda tidak termasuk golongan spectators kebawah pada tangga social technographic.

3. Too Much Strategy

Allow yourself to make mistakes. ber-Social media strategy berarti eksis memainkan peran di ranah social connected dengan hati. Dengan memberi ruang untuk sedikit experiment berarti menunjukan siapa dan bagaimana karakter anda, penerapan characterization juga diperlukan bagi brand. Be spontaneous!.

4. Me Syndrome: Only Promoting Yourself

OverBuilding “me me me” syndrome. Tak ada yang salah dengan memasarkan diri, namun tak sepenuhnya benar. Internet saat ini sangat berbeda dengan tradisional media, yang mana kita hanya akan membahas diri sendiri karena ruangnya memang terbatas. Sementara social media, setiap netizen seakan memiliki ruangnya masing masing. Temukan dan share konten yang menarik dengan netizen, sekalipun konten itu milik kompetitor anda. Meskipun tak semuanya setuju.

5. Conversation: Not Engaging

Tidak ber-Conversations artinya tidak akan ada yang menyadari kehadiran anda di media social. Start to engaging everywhere, bukan hanya ketika artikel anda mendapat komentar namun juga ikut berkomunikasi pada conversation yang sudah eksis. Pastikan anda ikut berinterkasi dengan saling membantu, bukan fokus pada diri sendiri.

6. Your Content Is Not Being Shared

Pastikan Blogg anda memiliki sharing system misalnya social media tools seperti Tweetmeme or Digg button. Bantu mereka menyebarkan konten anda, hanya jika memang konten anda dianggap berguna untuk mereka.

7. Your Traffic is not Converting

Membangun traffic namun tidak berhasil mengkonversi tentu terlihat berat bagi pemilik web. Karena itu, mulailah menentukan objektivitas sebelum membuat blog, bagaimana isinya, seperti apa target audiens, hingga menyusun rencana bagaimana memanfaatkan social media tools hingga bisa mencapai nilai yang objective.

Namun jika sudah terlanjur eksis, introspeksi apakah pesan yang disampaikan sudah cukup jelas? Apa anda mengunakan Call To Action berlebih atau bahkan tidak sama sekali? atau jangan jangan memang terlalu banyak clutter…

8. Focus On Sales, Ignore Relationships

Social Media is not direct sales market!. Jika anda ingin yang seperti itu, sebaiknya cari alternative lainnya atau buat saja e-commerce. Jika FJB kaskus saja mengedepankan trust dan relationships diantar penggunanya maka berarti “Cold-Calling” is dead. Kesimpulannya, bangunlah relationship dibanding bersabar, duduk manis menunggu porspek yang datang dengan sendirinya. A hardcore salesman gets no love on social media.

9. The Ettiquette

Facebook, Linkedin dan Twitter, ketiganya adalah hal yang berbeda sehingga memiliki treatment yang berlainan pula, meskipun sama sama social networking. Ada perbedaan bagaimana bergaul dan berkomunikasi, berbuat kesalahan sangat manusiawi dan bertanya sangat disarankan. Terus menerus melakukan kesalahan akan menghancurkan brand character yang sudah atau ingin dibangun.

Conclusion

Question everything, Test a new Thing, Make sure you present yourself honestly.

-

>> Pertanyaannya, Seperti apa karakter anda di social media? benarkah Social Media Is Not Working !?

Incoming search terms:

  • http://indocita.com Donny

    Sebagai perusahaan industri migas, saya kesulitan tuk mencari crowd yang relevan dengan topik, bagaimana sulusinya mas ?

  • http://cozyeslife.blogspot.com richo

    saya setuju banget dengan interaksi, namun memang saya belum bisa melakukan dengan baik

    • http://road-entrepreneur.com/ Arham blogpreneur

      Masalah sibuknya waktu.. tapi kalau dipikir pikir ini bisa jadi celah income bagi perusahaan yang musti aktif di social media tapi tidak ada kesediaan waktu

  • http://myfree-download.com dery pratama

    “Terus menerus melakukan kesalahan akan menghancurkan brand character yang sudah atau ingin dibangun”

    Jika hal tersebut telah terjadi, haruskah kita memulainya lagi dari nol atau membuat sesuatu yang baru lagi dan menghapus yang lama???

    • http://inventco.net Arham Blogpreneur

      Personal branding yang terlanjur ‘rusak’ lebih baik bangun dari awal lagi lebih mudah…Nah, kalau yang baru dan apus yang lama… ngak ada salahnya juga… Derry di myfree download dan derry di puralovers tentu beda karakternya kan :D

  • http://www.donnyverdian.net DV

    Mungkin persoalan konkretnya adalah, bbrapa menganggap promosi lewat social media dianggap sampah? Ada usulan untuk mengkreasi promosi via social media yang lebih humanis dan lebih not-so-called junk forwarded? :)

    • http://inventco.net Arham Online Media Strategist

      “bbrapa menganggap promosi lewat social media dianggap sampah?” karena terbiasa menemukan info info yang dianggap ‘sampah’ akibatnya meyakini social medianya ‘sampah’ termasuk blognya Pak boediono dan mungkin twitternya pak tifatul sembiring

      soal

      “usulan untuk mengkreasi promosi via social media yang lebih humanis” boleh tuh mas.. kita jajaki :)

  • http://www.dianpurnomo.com dian

    yippie… punya guru baru.
    sumpah, udah dibaca beneran kok. tapi beberapa memang belum dipraktekkan
    salam :D

    • http://inventco.net Arham Blogpreneur

      Wah… seneng juga dipanggil guru :P

  • http://septirani.wordpress.com septirani

    hmmm bahasanya keras pak profesor :D

    • http://www.road-entrepreneur.com Arham Blogpreneur

      yang keras dibagian mananya? btw saya bukan professor lho :)

  • http://seputarsemarang.com Sriyono Asli Semarang

    Waw, agak lama nggak mampir sini, perubahannya dahsyat nih :)

  • http://www.mukabantal.com Dewa Bantal

    Hai… :)

    Aku justru sudah luama sekali ngga pernah menyentuh SU, Digg, Delicious dan sebagainya. Apakah sekarang situs2 itu masih marak ya?

    Berhubung aku barusan ngeblog lagi 4 bulan lalu, jadi blog ku blom ada dekorasi macam2 begitu… perlu nggak ya? :)

    • http://inventco.net Arham Blogpreneur

      Biarkan ketukan keyborad dan sajian text menghiasi web seiring sajain kompetensi konten. Kalau kalau dibutuhkan, teman teman netizen siap membantu dengan hati :)

  • http://femikhirana.com fekhi

    Point ke-4 dan ke-8 itu harusnya sinergi. Harus fokus on me, itu yang saya justru setujui. Tapi banyak orang melakukannya dengan cara yang salah, akhirnya secara tidak sadar orang itu tetap saja fokus pada produk (padahal produk tidak diperdulikan dalam jaringan sosial).

    Dan lagi point ke-4 itu baru dapat berjalan sempurna bila point ke-8 dilakukan sepenuhnya. Jadi dia memfokuskan diri bukan sebagai penjual tetapi sebagai teman. Dalam jaringan sosial, transaksi antarteman yang diutamakan karena masih ada kepercayaan yang terbuat dari sana.

    Saya juga lagi menyusun buku tentang hal ini, sudah ada e-book-nya. Mungkin bulan depan launch untuk limited edition dulu bukunya. Beberapa dari point ini juga ada dalam bahasan sih hehehe…

    • http://www.road-entrepreneur.com Arham Blogpreneur

      [Dalam jaringan sosial, transaksi antarteman yang diutamakan karena masih ada kepercayaan yang terbuat dari sana.]

      Trust is the keyword